Mitos-mitos Ini Kerap Jadi Penghambat Pengobatan Kanker Payudara


Jakarta - Tidak ada seorang pun yang mau menderita sakit, apalagi jika sakit yang diidap adalah sakit yang menjadi momok banyak orang, seperti kanker. Terkadang seseorang memiliki berbagai penyangkalan untuk menghindari pengecekan kanker payudara ke dokter akibat mitos-mitos yang didengarnya.

Aneka hal negatif berkecamuk sehingga menyebabkan yang bersangkutan malah percaya hal-hal yang kurang rasional. Nah, berikut ini mitos-mitos yang kerap jadi penghambat pengobatan kanker payudara, seperti dirangkum detikHealth pada Senin (21/4/2014):
1. Orang Langsing Pasti Bebas Kanker Payudara

Jamak diketahui bahwa obesitas bisa menjadi sarang penyakit, tak terkecuali kanker. Namun bagi perempuan yang langsing jangan keburu terlena. Sebab badan yang langsing namun jarang berolahraga masih memiliki risiko kanker payudara.

Wanita yang paling sedikit berolahraga 40% lebih mungkin terkena kanker payudara dibanding wanita yang paling aktif berolahraga. Yang lebih penting, hasil penelitian menunjukkan bahwa olahraga seharusnya dilakukan tak peduli tubuh ramping atau gemuk. Sebab risiko kanker payudara tidak melulu berkaitan dengan bobot atau obesitas, tetapi juga kondisi dan aktivitas tubuh.

"Anda dapat mengurangi risiko kanker payudara dengan aktif secara fisik, meski Anda berbobot normal," tutur Trolle Lagerros dokter spesialis obesitas di Karolinska Institute, Stockholm.

Menurut Lagerros, golongan yang paling rentan terserang kanker payudara adalah mereka yang obesitas sekaligus tidak aktif berolahraga. Risiko itu dua kali lipat dibanding wanita yang ramping sekaligus aktif.

2. Payudara Kecil Aman dari Kanker
Sebenarnya tidak ada hubungan pasti antara ukuran payudara dengan risiko kanker payudara. Untuk diketahui, kanker payudara berkembang dalam sel-sel yang melapisi saluran atau lobulus yakni bagian yang berfungsi memproduksi susu dan membawanya ke puting. Nah, semua perempuan memilikinya, terlepas dari ukuran payudara mereka.

Akan tetapi ukuran payudara yang besar lebih mungkin membuat pemeriksaan lebih sulit dilakukan. Karena itu, perempuan berpayudara besar ataupun kecil harus sama-sama punya komitemen untuk melakukan pemeriksaan rutin.

3. Bra Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
Ada yang bilang pemakaian bra berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Namun menurut dr Walta Gautama, SpB(K)Onk, Kepala Unit Deteksi Dini RS Kanker Dharmais, pendapat itu merupakan mitos yang menyesatkan.

"Yang membuat mitos tersebut mungkin tidak suka pakai bra," canda dr Walta.

Diakui oleh dr Walta, mitos tersebut lahir dari sebuah fenomena nyata. Di sebuah wilayah di Kepulauan Fiji, banyak perempuan tidak memakai bra dan jumlah pengidap kanker payudara di tempat tersebut relatif rendah. Fenomena serupa juga teramati di Jepang.

Para ilmuwan pun berspekulasi tentang hubungan antara bra dan kanker payudara. Melalui serangkaian penelitian, para ilmuwan melakukan perbandingan dengan kelompok lain yang menggunakan bra. Juga dengan kelompok yang tidak menggunakan bra, di tempat lain. "Akhirnya tidak terbukti bahwa penggunaan bra berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Tapi sampai sekarang hal itu terlanjur menjadi mitos," kata dr Walta.

Namun demikian juga jangan asal memakai bra. Bra yang terlalu ketat, apalagi yang dipakai seharian dan selama tidur malam, selain tidak nyaman juga membuat pemakainya rentan terkena penyakit. Misalnya saja muncul lecet-lecet di kulit dan sebagainya.

4. Biopsi Mempercepat Penyebaran Kanker
Beberapa orang berpendapat jika ada benjolan mencurigakan di payudara, maka jangan buru-buru dibiopsi. Sebab biopsi malah bisa membuat payudara yang semula 'tidak apa-apa' menjadi 'kenapa-kenapa'. Padahal hal itu hanyalah mitos.

dr Walta Gautama, SpB(K)Onk, Kepala Unit Deteksi Dini RS Kanker Dharmais, mengatakan untuk jenis kanker yang bersifat fast growing seperti kanker tiroid aplastik, pertumbuhannya bisa meningkat setelah biopsi. Namun secara umum, dr Walta menegaskan bahwa tidak semua kanker bersifat fast growing dan menjadi makin parah setelah biopsi. Justru, biopsi dibutuhkan untuk memastikan diagnosis, dan menentukan terapi yang tepat untuk kanker yang terdeteksi.

"Sayangnya memang ada yang jadi lebih cepat menyebar, lalu itu yang dijadikan mitos seolah-olah semua jenis kanker seperti itu," tambah dr Walta.

Setelah memutuskan untuk biopsi, dr Walta menganjurkan untuk segera menjalani terapi karena harus berpacu dengan doubling time atau waktu penggandaan sel kanker. Dari semua jenis kanker, jika dirata-rata doubling time sel kanker berkisar antara 20 hingga 100 hari.

5. Mastektomi Jaminan Tak akan Kena Kanker
Lantaran memiliki risiko kanker, aktris Angelina Jolie melakukan mastektomi. Ini merupakan salah satu tindak pencegahan. Akan tetapi sebenarnya mastektomi tidak bisa menjamin seseorang tidak akan kena kanker. Sebab beberapa perempuan ada yang terkena kanker di tempat bekas luka setelah mastektomi. Meski mastektomi bisa menjadi salah satu tindakan pencegahan, seseorang tetap perlu menjaga gaya hidupnya.

sumber : detik

Unknown

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation.

....

 

Copyright @ 2013 free bokep download.

Designed by Templateiy & CollegeTalks